BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Menurut Keraf (1991:19) bagian dari tata bahasa atau
ilmu bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran suatu bahasa disebut fonologi.
Fonologi dapat dibagi atas dua bagian, yaitu: fonetik dan fonemik. Sasaran
fonetik adalah mempelajari segala macam bunyi ujaran yang dapat dihasilkan oleh
alat-alat ucap, dan bagaimana menghasilkan tiap-tiap bunyi itu dengan tepat
menurut kebiasaan masyarakat bahasa itu. Sedangkan fonemik adalah bagian dari
tata bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda
arti.
Di
Indonesia ditemukan begitu banyak bahasa daerah. Dalam suatu wilayah propinsi
atau kabupaten ada perbedaan bahasa maupun
dialek masyarakat setempat. Misalnya dalam wilayah Manggarai Raya ada
perbedaan dialek antara kabupaten Manggarai Timur, Manggarai Barat, Manggarai
Tengah. Bahkan dalam wilayah suatu kabupaten ada perbedaan bahasa salah satu
contohnya adalah daerah Lembor memiliki perbedaan dialek dengan daerah Kempo.
Dalam tulisan ini penulis mencoba
untuk meneliti bahasa Manggarai dialek kempo penulis beranggapan dialek Kempo
memiliki keunikan tersendiri baik dari segi pengucapan maupun dari segi bentuk.
Salah satu keunikannya adalah:
(i)
Nana
Data diatas merupakan salah
satu contoh kata sapaan yang digunakan untuk laki-laki dalam bahasa Manggarai
dialek Lembor. Berbeda dengan bahasa Manggarai dialek Kempo kata sapaan yang
digunakan untuk laki-laki adalah:
(ii)
Nono
Contoh-contoh diatas merupakan salah satu
bagian dari keunikan dari bahasa Manggarai dari dialek kempo. Sejalan dengan
itu, penulis sangat menarik untuk meneliti dan membahasa kosakata-kosakata bahasa Manggarai dialek kempo.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah
pemetaan fonem konsonan bahasa Manggarai dialek Kempo?
2. Bagaimanakah
pemetaan fonem vokal bahasa Manggarai dialek Kempo?
3. Apasajakah
diftong yang ditemukan bahasa Manggarai dialek Kempo?
4. Apasajakah
kluster yang ditemukan bahasa Manggarai dialek Kempo?
5. Bagaimanakah
fonemik bahasa Manggarai dialek Kempo?
6. Bagaimanakah
unsur serapan bahasa Manggarai dialek Kempo?
1.3 Tujuan
Penelitian
1. Menjelaskan
pemetaan fonem konsonan bahasa Manggarai dialek Kempo.
2. Menjelaskan
pemetaan fonem vocal bahasa Manggarai dialek Kempo.
3. Menguraikan
diftong yang ditemukan bahasa Manggarai dialek Kempo.
4. Menguraikan
kluster yang ditemukan bahasa Manggari dialek Kempo.
5. Mendeskripsikan
fonemik dalam bahasa Manggarai dialek Kempo.
6. Mendeskripsikan
unsure serapan bahasa Manggarai dialek Kempo.
1.4 Manfaat penelitian
Menambah wawasan dan pengetahuan
kita mengenai fonem, konsonan, vokal, diftong, kluster, fonemik dan usuran
serapan bahasa Manggarai dialek Kempo.
BAB
II
LANDASAN
TEORITIS
2.1 Fonetik
Menurut
Keraf (1991:19) fonetik adalah bagian dari tata bahasa yang menyelidiki dan
menganalisis bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari
bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia. Menurut
Chaer (2009:10) fonetik adalah cabang kajian linguistik yang meneliti
bunyi-bunyi bahasa tanpa melihat apakah bunyi-bunyi itu dapat membedakan makna
kata atau tidak.
Berdasarkan
di mana beradanya bunyi bahasa itu sewaktu dikaji,dibedakan adanya tiga macam
fonetik, yaitu fonetik artikulatoris yang objek kajiannya sewaktu bunyi itu
berada dalam proses produksi di dalam mulut penutur, fonetik akustik yang objek
kajiannya sewaktu bunyi bahasa itu berada atau sedang merambat di udara menuju
telinga pendengar, dan fonetik auditoris yang objek kajiannya sewaktu bunyi bahasa
itu sampai atau berada di telinga pendengar.
Menurut
Chaer (2009:12) penulisan bunyi-bunyi bahasa secara akurat atau secara tepat
dengan menggunakan huruf atau tulisan fonetik disebut transkripsi fonetik.
Huruf fonetik ini dibuat berdasarkan huruf (alfabet) Latin yang dimodifikasikan
atau diberi tanda-tanda diakritik.
a) Konsonan
Menurut Keraf (1991:24) bila dalam
menghasilkan suatu bunyi ujaran, udara yang keluar dari paru-paru mendapat
halangan, maka terjadilah bunyi yang disebut konsonan. Halangan yang dijumpai
udara itu dapat bersifat seluruhnya atau dapat bersifat sebagian, yaitu hanya
dengan menggeserkan atau mengaduk arus udara.
Menurut Chaer (2009:48) konsonan
adalah bunyi bahasa yang diproduksi dengan cara, setelah arus ujar keluar dari
glotis, lalu mendapat hambatan pada alat-alat ucap tertentu di dalam rongga
mulut atau rongga hidung. Pengklasifikasian konsonan berdasarkan :
1. Tempat
artikulasi, yanti tempat terjadinya bunyi konsonan, atau tempat bertemunya
artikulator aktif dan artikulator pasif. Tempat artikulasi disebut juga titik
artikulasi. Sebagai contoh bunyi [p] terjadi pada kedua belah bibir, sehingga
tempat artikulasinya disebut bilabial.
2. Cara
artikulasi yaitu bagaimana tindakan atau perlakuan terhadap arus udara yang
baru ke luar dari glotis dalam menghasilkan bunyi konsonan itu. Misalnya, bunyi
[p] dihasilkan dengan cara mula-mula arus udara dihambat pada kedua belah
bibir, lalu tiba-tiba diletupkan denhan
keras. Maka bunyi [p] itu disebut bunyi hambat atau bunyi letup.
3. Bergetar
tidaknya pita suara, yaitu jika suara dalam proses pembunyian itu turut
bergetar atau tidak. Bila pita suara itu turut bergetar maka disebut bunyi
bersuara. Jika pita suara tudak turut bergetar , maka bunyi itu disebut bunyi
tak bersuara.
Dengan melihat temapt artikulasi,
cara artikulasi, dan bergetar tidaknya pita suara, maka bunyi konsonan
diantaranya [q], [w], [r], [t], [p], [s], [d], [f], [g], [h], [z],[x], [c],
[v], [b], [n], [m], [ŋ], [?], [j], [k], dan [l].
b) Vokal
Menurut
Keraf (1991:23) bula pada waktu menghasilkan suatu bunyi ujaran, khususnya
dengan posisi bagian atas pita suara terbuka sedikit, udara yang kleuar dari
paru-paru tidak mendapat halangan sedikitpun maka terjadilah bunti yang disebut
vokal. Menurut Chaer (2009:38) vokal adalah bunyi bahasa yang ketika dihasilkan
atau diproduksi, setelah arus ujar ke luar dari glotis tidak mendapat hambatan
dari alat ucap, melainkan hanya diganggu oleh posisi lidah, baik vertikal
maupun horizontal, dan bentuk mulut.
|
POSISI
LIDAH
|
DEPAN
|
TENGAH
|
BELAKANG
|
STRUKTUR
|
|
|
TBD
|
TBD
|
BD
|
N
|
||
|
atas
TINGGI
bawah
|
i
I
|
|
u
U
|
|
Tertutup
Semi
tertutup
|
|
atas
SEDANG
bawah
|
e
ԑ
|
ə
|
o
ᴐ
|
|
Semi
terbuka
|
|
RENDAH
|
a
|
|
|
ɑ
|
Terbuka
|
Keterangan : TBD = TIDAK BUNDAR
BD = BUNDAR
N = NETRAL
c) Diftong
Menurut
Keraf (1991:24) diftong adalah dua vokal berurutan yang diucapka dalam satu
kesatuan waktu, misalnya bunyi au dan ai yang terdapat dalam kata-kata bahasa
Manggarai dialek Kempo diantaranya nai, rais, cai, hau, lau, dan nau. Konsep
diftong berkaitan dengan dua buah vokal dan yang merupakan satu bunyi dalam
satu silabel. Namun, posisi lidah ketika mengucapkan bergeser ke atas atau ke
bawah. Karena itu, dikenal adanya tiga macam diftong, yaitu diftong naik,
diftong turun, dan diftong memusat. Dalam bahasa Indonesia dan bahasa Manggarai
dialek Kempo yang ada tampaknya hanya diftong naik. Berikut gambar skema
diftong naik :
[i] [u]
[ə] [o]
[a]
Contoh
:
[ai]
: nai
[au]
: cau
d) Kluster
Menurut Moeliono (1992:42) kluster
adalah deretan dua konsonan atau lebih yang tergolong dalam satu suku kata yang
sama. Contohnya dalam bahasa Manggarai dialek Kempo adalah [kr]: kroso dan krara.
2.1.2
Fonemik
Menurut Keraf (1991:19) fonemik
adalah bagian dari tata bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran dalam
fungsinya sebagai pembeda arti. Sasaran fonemik adalah mengadakan pengelompokan
bunyi ujaran (alofon) suatu bahasa menjadi sebuah fonem, dan menetapkan
kaidah-kaidah untuk menggabungkan fonem-fonem itu.
Sebuah bunyi ujaran dapat menjadi
sebuah fonem dapat dibuktikan melalui pasangan minimal, yaitu satu pasangan
kata yang sama dalam semua bunyinya, kecuali satu dalam tiap kata tadi.
Misalnya kata gelang dan celang, tampak keduanya mengandung bunyi yang sama,
kecuali satu yang berbeda, yaitu /g/ dan /c/. Dengan cara ini terbukti bahwa
/g/ dan /c/ adalah fonem karena dapat membedakan arti.
2.1.3
Unsur Serapan
Bunyi bahasa dan kosa kata dan
umumnya merupakan unsur bahasa yang bersifat terbuka, dengan sendirinya dalm
kontak bahasa akan terjadi saling pengaruh, saling meminjam atau menyerap unsur
asing. Peminjaman ini dilatarbelakangi oleh berbagai hal antara lain kebutuhan,
prestise, kurang paham terhadap bahasa sendiri atau berbagai latarbelakang yang
lain.
Contoh salah satu kata bahasa
Manggarai dialek Kempo yang merupakan unsure serapan dari bahasa asing yaitu kraeng yang berarti seorang laki-laki
yang dihormati. Kata ini merupakan hasil serapan dari bahasa Bugis ( Makasar ).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan
metode wawancara (tanya-jawab) karena penulis memperoleh data memalui hasil
wawancara. Dan pendekatan yang dipakai penulis adalah pendekatan kualitatif.
3.2
Data dan Sumber Data
1.
Data Mentah dalam penelitian sederhana
ini berupa kosa kata bahasa Manggarai dialek Kempo tepatnya di desa Cunca Lolos
Kecamatan Buleleng, Kabupaten Manggarai Barat.
2.
Data analisis dalam penelitian ini
diolah datajadi untuk dianalisis berupa fonem konsonan, fonem vokal, diftong,
kluster, fonemik, dan unsur serapan.
3.3
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada hari
Sabtu, 6 Desember 2015 pukul 19.00 WITA dan bertempat di desa Cunca Lolos,
kecamatan Buleleng, Kab. Manggarai Barat.
3.4
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan
datanya adalah bertanya dan mencatat jawaban.
3.5
Instrumen Penelitian
a. Buku
b. Balpoin
c. Kamera
3.6
Analisis Data
Data yang dianalisis dalam tulisan ini
adalah kosa kata bahasa Manggarai dialek Kempo pada daerah Kecamatan Buleleng
Manggarai Barat.
BAB
IV
PEMBAHASAN
4.1 Fonetik
4.1.1 Fonem Konsonan Bahasa
Manggarai Dialek Kempo
|
Fonem Konsonan
|
Awal
|
Tengah
|
Akhir
|
|
/b/
|
becang
bakok
borok
bobok
bebek
balak
bajak
boat
|
bobot
bibit
sebek
sembeng
kebe
kebat
tebar
cebel
|
|
|
/c/
|
cebel
caca
cica
coca
cenger
cunca
cunu
cincer
|
cocok
coco
waca
baca
laca
loce
roco
kocok
|
|
|
/d/
|
derat
dama
duntak
dontang
doku
dining
dedek
dolas
|
ruda
rudak
kode
sudang
koda
weda
toda
kador
|
|
|
/g/
|
gereng
golo
gojat
gomal
gelang
genceng
gemol
gege
|
agu
logor
kogot
lege
rugat
rugap
rogang
gegeng
|
|
|
/h/
|
hau
hena
hese
hemong
halas
hela
hang
haju
|
hahal
beheng
bohak
ruha
buha
duha
pohar
jahar
|
|
|
/j/
|
jahar
jerjitik
jenggeng
jarang
jokok
jurak
jerem
jere
|
ajo
haju
bajar
jejer
bajak
laja
majung
kejek
|
|
|
/k/
|
kamer
kaka
kaba
kesa
kunceng
kuse
kawe
kote
|
kaka
lako
toko
tuke
cengka
caka
cikat
cako
|
balak
jurak
jimak
jauk
wedak
patok
mantek
rucik
|
|
/?/
|
|
rikok
wokok
bokok
bakak
|
kite?
boka?
racuk?
joko?
|
|
/l/
|
latung
lako
lime
lewe
lomes
lengge
lege
loce
|
lele
ala
alu
gelang
culu
celong
celang
calang
|
hahal
wedol
jalal
katel
gemol
taal
tikul
kakal
|
|
/m/
|
manuk
muku
meket
masu
mese
meseng
melet
molor
|
mame
amang
ame
kamer
uma
ome
cama
imus
|
hum
maam
gugum
darum
anggom
angam
dedem
bom
|
|
/n/
|
neka
naka
naring
nare
nipu
negeng
nepa
nuk
|
hena
kena
minak
ine
inuk
mane
nunduk
wina
|
|
|
/ng/
|
ngaung
ngampang
ngonde
ngasang
ngarat
ngance
ngoeng
nganga
|
lengge
tungku
gangga
wangga
kangkang
tengge
tenggo
denge
|
nakeng
hemong
nakeng
ngeseng
hanang
uwang
galung
wulang
|
|
/p/
|
poka
puar
pili
peke
peceng
pecu
pepek
pau
|
sempak
tepo
nepa
lapak
lapo
lepak
empo
lopat
|
|
|
/r/
|
radak
rudak
rucuk
reba
reke
rewak
reweng
rengas
|
torok
corok
merep
toro
durut
darat
karot
nare
|
jejer
puar
kekar
teler
kakor
kokor
paker
ngalor
|
|
/s/
|
sima
sapo
selek
solek
saung
sorok
saka
siro
|
asa
asi
kuse
hese
mese
ase
meseng
masu
|
raes
rukes
kuis
lempos
cekes
bengkes
heres
loas
|
|
/t/
|
teler
took
tilu
teko
tikul
tete
tiwu
tawa
|
tete
katel
tetel
ata
ati
kati
tutung
heteng
|
rokot
daket
deket
rongket
lopat
darat
jonggot
derot
|
|
/w/
|
wear
wulang
weang
wuku
wedol
wunut
wakar
wangkal
|
uwang
awat
awang
awu
kawak
tawa
rawok
kawu
|
|
4.1.2 Fonem Vokal Bahasa Manggarai
Dialek Kempo
|
Fonem Vokal
|
Contoh kata
|
|
/a/
|
asi,
weang, cama, using, haju, api, latung, ati
|
|
/i/
|
ita,
ite, ise, imbi, imus, nai, landing, ipo
|
|
/I/
|
Ine,
Inuk, Inung, Isi, Ireng, Imet, Intung, Iso
|
|
/u/
|
uma,
ute, wunut, wuku, tutu, culu, kudu, ruku
|
|
/U/
|
Usang,
Utek, Uwa, Urat, Ulap
|
|
/e/
|
eta,
ame, ine, kela, kraeng, hejol, hesot, leko
|
|
/ə/
|
əseng,
cembəs, həmo, kamər, sakə, menəs
|
|
/ԑ/
|
pзpзk
|
|
/o/
|
lonto,
oroh, poka, keto, oros, nggelong, ipo, iso
|
|
/ᴐ/
|
worᴐt,
rokᴐt, wokᴐk, sosᴐk, sorᴐk, jongkᴐk, tokᴐk, bakᴐk
|
4.1.3
Diftong Bahasa Manggarai Dialek Kempo
|
Diftong
|
Contoh
Kata
|
|
/ai/
|
nai, cai, cai, tai
|
|
/au/
|
hau, dau, lu, cau, nau
|
|
/ui/
|
tui
|
|
/oi/
|
noing
|
4.1.4
Kluster Bahasa Manggarai Dialek Kempo
|
Kluster
|
Contoh
Kata
|
|
/dr/
|
drere
|
|
/kr/
|
Kroso, krara, kraeng
|
|
/sr/
|
srigen
|
4.2
Fonemik bahasa Manggarai dialek Kempo
|
leke (tempurung) lele (ketiak)
ala (ambil) alu
(alat untuk menumbuk)
celong (pinjam) celang (rambut)
calang (salah) salang
(jalan)
meket (pelit) melet (jarang)
ame (bapa) ome
(kalau)
hena (kena) kena
(pagar)
torok (lurus) corok
(mengambil)
selek (berkemas) solek (sering)
asa (jangan sampai) ase (adik)
mese (besar) meseng
(kemarin)
rugep (menutup) ruget (jurang)
ruha (telur) duha(setuju)
bajar (bayar) bajak (rawa)
lako (jalan) tako
(curi)
kokak (burung) kolak
(makanan)
bokok (rebung) bakak (ketombe)
asi (jangan) api
inung (minum) intung
(minum kedua kalinya)
isi (menendang bola ) iso (ludah)
ute ( sayur) utek
(otak)
wuku (kuku) ruku
(sifat)
borok (semua) bobok
(memar)
ceker (malu) cebel
(gelisah)
wokok (pendek) bokok (rebung)
loas (melahirkan) laes (hancur)
heres (iri)
cekes (tersedak)
darat (ekspresi kaget) durut (menusuk)
nare (masak) nara
(saudara)
toko (tidur) teko (keladi)
tilu (telinga) tiwu (
kolam yang dalam)
kakor (ayam berkokok) kokor (masak)
kete (nyala) tete
(ubi)
tetel (kaget) katel
(gatal)
|
4.3
Unsur Serapan
|
Bahasa Indonesia
|
Dialek Kempo
|
Bahasa Indonesia
|
Dialek Kempo
|
|
sapi
kompor
paha
garpu
senduk
jaket
kopi
topi
|
japi
konfor
pa’a
garfu
sendok
jeket
kupi
tupi
|
api
uang
jeriken
mangkuk
|
api
uwang
srigen
mangkok
|
BAB V
PENUTUP
Melalui penelitian ini, dapat kami
simpulkan bahwa dalam bahasa Manggarai dialek Kempo ditemukan 17 fonem
konsonan, 10 fonem vokal, 4 diftong, 3
kluster. Fonemik yang ditemukan penulis dalam dialek ini berjumlah 33 kata dan
unsure serapannya hanya satu. Dalam bahasa Manggarai dialek Kempo tidak ada
fonem konsonan ny, f, v, q, y, x, dan z
DAFTAR
PUSTAKA
Chaer,
Abdul. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia. PT
Rineka Cipta:Jakarta
Keraf,
Gorys. 1991. Tata Bahasa Rujukan Bahasa
Indonesia. PT Gramedia Widiasarana: Jakarta
Moeliono,
I. 1992. Tata Bahasa Baku Bahasa
Indonesia. Balai Pustaka: Jakarta