Senin, 16 Desember 2019

Apakah kamu sadar??


Apakah Kamu Sadar ?


Apakah kamu sadar ?
Kita berada dalam ruangan yang sama
Ruangan yang cukup menampung tubuh kita, beberapa buah kursi, dan dua buah meja
Tak ada mata yang saling menatap seperti dulu
Tapi aku yakin kita tidak buta
Tak ada kata yang terucap dan terdengar
Sekali lagi, aku yakin kita tidak diserang penyakit yang mengharuskan kita untuk menjadi bisu dan tuli

Pernahkah kamu mendengar orang mengatakan dekat namun serasa jauh ?
Atau mungkin kamu pernah merasakannya
Merasakan seseorang yang begitu dekat dengan kamu, namun menciptakan dunianya sendiri yang kemudian tak bisa kamu masuki ?
Jika tak pernah kamu dengar dan jika pula kamu tak pernah merasakannya
Inilah yang saat ini terjadi diantara kita
Berada dalam sebuah ruangan, dengan jarak yang begitu dekat
Namun, tak bisa kudapati mata dan katamu
Teringat saat kamu belum berkawan dengan apa yang membuatmu tersenyum saat ini
Dengan mudah kudengar  katamu, kutatap matamu, terkadang diselingi sentuhan hangat

Apakah kamu membawa serta jiwamu ke ruangan ini ?
Aku tak yakin kamu membawanya
Semuanya telah diambil olehnya
Aku hanya bisa mencoba menikmati diam yang kamu hadirkan dalam hiruk pikuknya kendaraan di luar sana
Aku menunggu kamu menyadari kehadiranku walaupun belum ada tanda-tandanya.








Selasa, 07 Juni 2016

MENGANALISIS DIALEK KEMPO KABUPATEN MANGGARAI BERKAITAN DENGAN FONOLOGI



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Menurut  Keraf (1991:19) bagian dari tata bahasa atau ilmu bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran suatu bahasa disebut fonologi. Fonologi dapat dibagi atas dua bagian, yaitu: fonetik dan fonemik. Sasaran fonetik adalah mempelajari segala macam bunyi ujaran yang dapat dihasilkan oleh alat-alat ucap, dan bagaimana menghasilkan tiap-tiap bunyi itu dengan tepat menurut kebiasaan masyarakat bahasa itu. Sedangkan fonemik adalah bagian dari tata bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti.
            Di Indonesia ditemukan begitu banyak bahasa daerah. Dalam suatu wilayah propinsi atau kabupaten ada perbedaan bahasa maupun  dialek masyarakat setempat. Misalnya dalam wilayah Manggarai Raya ada perbedaan dialek antara kabupaten Manggarai Timur, Manggarai Barat, Manggarai Tengah. Bahkan dalam wilayah suatu kabupaten ada perbedaan bahasa salah satu contohnya adalah daerah Lembor memiliki perbedaan dialek dengan daerah Kempo.
            Dalam tulisan ini penulis mencoba untuk meneliti bahasa Manggarai dialek kempo penulis beranggapan dialek Kempo memiliki keunikan tersendiri baik dari segi pengucapan maupun dari segi bentuk. Salah satu keunikannya adalah:
(i)                 Nana
            Data diatas merupakan salah satu contoh kata sapaan yang digunakan untuk laki-laki dalam bahasa Manggarai dialek Lembor. Berbeda dengan bahasa Manggarai dialek Kempo kata sapaan yang digunakan untuk  laki-laki adalah:
(ii)               Nono
             Contoh-contoh diatas merupakan salah satu bagian dari keunikan dari bahasa Manggarai dari dialek kempo. Sejalan dengan itu, penulis sangat menarik untuk meneliti dan membahasa kosakata-kosakata  bahasa Manggarai dialek kempo.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah pemetaan fonem konsonan  bahasa  Manggarai dialek Kempo?
2.      Bagaimanakah pemetaan fonem vokal bahasa Manggarai dialek Kempo?
3.      Apasajakah diftong yang ditemukan bahasa Manggarai dialek Kempo?
4.      Apasajakah kluster yang ditemukan bahasa Manggarai dialek Kempo?
5.      Bagaimanakah fonemik bahasa Manggarai dialek Kempo?
6.      Bagaimanakah unsur serapan bahasa Manggarai dialek Kempo?

1.3  Tujuan Penelitian
1.      Menjelaskan pemetaan fonem konsonan bahasa Manggarai dialek Kempo.
2.      Menjelaskan pemetaan fonem vocal bahasa Manggarai dialek Kempo.
3.      Menguraikan diftong yang ditemukan bahasa Manggarai dialek Kempo.
4.      Menguraikan kluster yang ditemukan bahasa Manggari dialek Kempo.
5.      Mendeskripsikan fonemik dalam bahasa Manggarai dialek Kempo.
6.      Mendeskripsikan unsure serapan bahasa Manggarai dialek Kempo.
1.4  Manfaat  penelitian
Menambah wawasan dan pengetahuan kita mengenai fonem, konsonan, vokal, diftong, kluster, fonemik dan usuran serapan bahasa Manggarai dialek Kempo.


















BAB  II
LANDASAN TEORITIS
2.1 Fonetik
            Menurut Keraf (1991:19) fonetik adalah bagian dari tata bahasa yang menyelidiki dan menganalisis bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia. Menurut Chaer (2009:10) fonetik adalah cabang kajian linguistik yang meneliti bunyi-bunyi bahasa tanpa melihat apakah bunyi-bunyi itu dapat membedakan makna kata atau tidak.
            Berdasarkan di mana beradanya bunyi bahasa itu sewaktu dikaji,dibedakan adanya tiga macam fonetik, yaitu fonetik artikulatoris yang objek kajiannya sewaktu bunyi itu berada dalam proses produksi di dalam mulut penutur, fonetik akustik yang objek kajiannya sewaktu bunyi bahasa itu berada atau sedang merambat di udara menuju telinga pendengar, dan fonetik auditoris yang objek kajiannya sewaktu bunyi bahasa itu sampai atau berada di telinga pendengar.
            Menurut Chaer (2009:12) penulisan bunyi-bunyi bahasa secara akurat atau secara tepat dengan menggunakan huruf atau tulisan fonetik disebut transkripsi fonetik. Huruf fonetik ini dibuat berdasarkan huruf (alfabet) Latin yang dimodifikasikan atau diberi tanda-tanda diakritik.
a)    Konsonan
            Menurut Keraf (1991:24) bila dalam menghasilkan suatu bunyi ujaran, udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan, maka terjadilah bunyi yang disebut konsonan. Halangan yang dijumpai udara itu dapat bersifat seluruhnya atau dapat bersifat sebagian, yaitu hanya dengan menggeserkan atau mengaduk arus udara.
            Menurut Chaer (2009:48) konsonan adalah bunyi bahasa yang diproduksi dengan cara, setelah arus ujar keluar dari glotis, lalu mendapat hambatan pada alat-alat ucap tertentu di dalam rongga mulut atau rongga hidung. Pengklasifikasian konsonan berdasarkan :
1.      Tempat artikulasi, yanti tempat terjadinya bunyi konsonan, atau tempat bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif. Tempat artikulasi disebut juga titik artikulasi. Sebagai contoh bunyi [p] terjadi pada kedua belah bibir, sehingga tempat artikulasinya disebut bilabial.
2.      Cara artikulasi yaitu bagaimana tindakan atau perlakuan terhadap arus udara yang baru ke luar dari glotis dalam menghasilkan bunyi konsonan itu. Misalnya, bunyi [p] dihasilkan dengan cara mula-mula arus udara dihambat pada kedua belah bibir,  lalu tiba-tiba diletupkan denhan keras. Maka bunyi [p] itu disebut bunyi hambat atau bunyi letup.
3.      Bergetar tidaknya pita suara, yaitu jika suara dalam proses pembunyian itu turut bergetar atau tidak. Bila pita suara itu turut bergetar maka disebut bunyi bersuara. Jika pita suara tudak turut bergetar , maka bunyi itu disebut bunyi tak bersuara.
Dengan melihat temapt artikulasi, cara artikulasi, dan bergetar tidaknya pita suara, maka bunyi konsonan diantaranya [q], [w], [r], [t], [p], [s], [d], [f], [g], [h], [z],[x], [c], [v], [b], [n], [m], [ŋ], [?], [j], [k], dan [l].

b)   Vokal
            Menurut Keraf (1991:23) bula pada waktu menghasilkan suatu bunyi ujaran, khususnya dengan posisi bagian atas pita suara terbuka sedikit, udara yang kleuar dari paru-paru tidak mendapat halangan sedikitpun maka terjadilah bunti yang disebut vokal. Menurut Chaer (2009:38) vokal adalah bunyi bahasa yang ketika dihasilkan atau diproduksi, setelah arus ujar ke luar dari glotis tidak mendapat hambatan dari alat ucap, melainkan hanya diganggu oleh posisi lidah, baik vertikal maupun horizontal, dan bentuk mulut.
POSISI LIDAH
DEPAN
TENGAH
BELAKANG
STRUKTUR
TBD
TBD
BD
N
                                       atas
TINGGI
                                       bawah
i

I

u

U



Tertutup

Semi tertutup
                                       atas
SEDANG
                                      bawah
e

ԑ
ə
o




Semi terbuka
RENDAH
a


ɑ
Terbuka
Keterangan : TBD = TIDAK BUNDAR
                      BD = BUNDAR
                      N = NETRAL
c)    Diftong
            Menurut Keraf (1991:24) diftong adalah dua vokal berurutan yang diucapka dalam satu kesatuan waktu, misalnya bunyi au dan ai yang terdapat dalam kata-kata bahasa Manggarai dialek Kempo diantaranya nai, rais, cai, hau, lau, dan nau. Konsep diftong berkaitan dengan dua buah vokal dan yang merupakan satu bunyi dalam satu silabel. Namun, posisi lidah ketika mengucapkan bergeser ke atas atau ke bawah. Karena itu, dikenal adanya tiga macam diftong, yaitu diftong naik, diftong turun, dan diftong memusat. Dalam bahasa Indonesia dan bahasa Manggarai dialek Kempo yang ada tampaknya hanya diftong naik. Berikut gambar skema diftong naik :

                        [i]                                             [u]

           
                                                [ə]                    [o]
           
                                                  [a]                

Contoh :
[ai] : nai
[au] : cau

d)   Kluster
            Menurut Moeliono (1992:42) kluster adalah deretan dua konsonan atau lebih yang tergolong dalam satu suku kata yang sama. Contohnya dalam bahasa Manggarai dialek Kempo adalah [kr]:  kroso dan krara.


2.1.2 Fonemik
            Menurut Keraf (1991:19) fonemik adalah bagian dari tata bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti. Sasaran fonemik adalah mengadakan pengelompokan bunyi ujaran (alofon) suatu bahasa menjadi sebuah fonem, dan menetapkan kaidah-kaidah untuk menggabungkan fonem-fonem itu.
            Sebuah bunyi ujaran dapat menjadi sebuah fonem dapat dibuktikan melalui pasangan minimal, yaitu satu pasangan kata yang sama dalam semua bunyinya, kecuali satu dalam tiap kata tadi. Misalnya kata gelang dan celang, tampak keduanya mengandung bunyi yang sama, kecuali satu yang berbeda, yaitu /g/ dan /c/. Dengan cara ini terbukti bahwa /g/ dan /c/ adalah fonem karena dapat membedakan arti.

2.1.3 Unsur Serapan
            Bunyi bahasa dan kosa kata dan umumnya merupakan unsur bahasa yang bersifat terbuka, dengan sendirinya dalm kontak bahasa akan terjadi saling pengaruh, saling meminjam atau menyerap unsur asing. Peminjaman ini dilatarbelakangi oleh berbagai hal antara lain kebutuhan, prestise, kurang paham terhadap bahasa sendiri atau berbagai latarbelakang yang lain.
            Contoh salah satu kata bahasa Manggarai dialek Kempo yang merupakan unsure serapan dari bahasa asing yaitu kraeng yang berarti seorang laki-laki yang dihormati. Kata ini merupakan hasil serapan dari bahasa Bugis ( Makasar ).






BAB III
METODE PENELITIAN

3.1    Metode Penelitian
            Dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara (tanya-jawab) karena penulis memperoleh data memalui hasil wawancara. Dan pendekatan yang dipakai penulis adalah pendekatan kualitatif.

3.2    Data dan Sumber Data
1.      Data Mentah dalam penelitian sederhana ini berupa kosa kata bahasa Manggarai dialek Kempo tepatnya di desa Cunca Lolos Kecamatan Buleleng, Kabupaten Manggarai Barat.
2.      Data analisis dalam penelitian ini diolah datajadi untuk dianalisis berupa fonem konsonan, fonem vokal, diftong, kluster, fonemik, dan unsur serapan.

3.3    Lokasi dan Waktu Penelitian
            Penelitian dilakukan pada hari Sabtu, 6 Desember 2015 pukul 19.00 WITA dan bertempat di desa Cunca Lolos, kecamatan Buleleng, Kab. Manggarai Barat.

3.4    Teknik Pengumpulan Data
     Dalam penelitian ini teknik pengumpulan datanya adalah bertanya dan mencatat jawaban.
3.5    Instrumen Penelitian
a.       Buku
b.      Balpoin
c.       Kamera

3.6 Analisis Data
     Data yang dianalisis dalam tulisan ini adalah kosa kata bahasa Manggarai dialek Kempo pada daerah Kecamatan Buleleng Manggarai Barat.


BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Fonetik
4.1.1 Fonem Konsonan Bahasa Manggarai Dialek Kempo
Fonem Konsonan
Awal
Tengah
Akhir
/b/
becang
bakok
borok
bobok
bebek
balak
bajak
boat
bobot
bibit
sebek
sembeng
kebe
kebat
tebar
cebel

/c/
cebel
caca
cica
coca
cenger
cunca
cunu
cincer
cocok
coco
waca
baca
laca
loce
roco
kocok

/d/
derat
dama
duntak
dontang
doku
dining
dedek
dolas
ruda
rudak
kode
sudang
koda
weda
toda
kador

/g/
gereng
golo
gojat
gomal
gelang
genceng
gemol
gege
agu
logor
kogot
lege
rugat
rugap
rogang
gegeng

/h/
hau
hena
hese
hemong
halas
hela
hang
haju
hahal
beheng
bohak
ruha
buha
duha
pohar
jahar

/j/
jahar
jerjitik
jenggeng
jarang
jokok
jurak
jerem
jere
ajo
haju
bajar
jejer
bajak
laja
majung
kejek

/k/
kamer
kaka
kaba
kesa
kunceng
kuse
kawe
kote
kaka
lako
toko
tuke
cengka
caka
cikat
cako
balak
jurak
jimak
jauk
wedak
patok
mantek
rucik
/?/

rikok
wokok
bokok
bakak
kite?
boka?
racuk?
joko?
/l/
latung
lako
lime
lewe
lomes
lengge
lege
loce
lele
ala
alu
gelang
culu
celong
celang
calang
hahal
wedol
jalal
katel
gemol
taal
tikul
kakal
/m/
manuk
muku
meket
masu
mese
meseng
melet
molor
mame
amang
ame
kamer
uma
ome
cama
imus
hum
maam
gugum
darum
anggom
angam
dedem
bom
/n/
neka
naka
naring
nare
nipu
negeng
nepa
nuk
hena
kena
minak
ine
inuk
mane
nunduk
wina

/ng/
ngaung
ngampang
ngonde
ngasang
ngarat
ngance
ngoeng
nganga
lengge
tungku
gangga
wangga
kangkang
tengge
tenggo
denge
nakeng
hemong
nakeng
ngeseng
hanang
uwang
galung
wulang
/p/
poka
puar
pili
peke
peceng
pecu
pepek
pau
sempak
tepo
nepa
lapak
lapo
lepak
empo
lopat

/r/
radak
rudak
rucuk
reba
reke
rewak
reweng
rengas
torok
corok
merep
toro
durut
darat
karot
nare
jejer
puar
kekar
teler
kakor
kokor
paker
ngalor
/s/
sima
sapo
selek
solek
saung
sorok
saka
siro
asa
asi
kuse
hese
mese
ase
meseng
masu
raes
rukes
kuis
lempos
cekes
bengkes
heres
loas
/t/
teler
took
tilu
teko
tikul
tete
tiwu
tawa
tete
katel
tetel
ata
ati
kati
tutung
heteng
rokot
daket
deket
rongket
lopat
darat
jonggot
derot
/w/
wear
wulang
weang
wuku
wedol
wunut
wakar
wangkal
uwang
awat
awang
awu
kawak
tawa
rawok
kawu


4.1.2 Fonem Vokal Bahasa Manggarai Dialek Kempo
Fonem Vokal
Contoh kata
/a/
asi, weang, cama, using, haju, api, latung, ati
/i/
ita, ite, ise, imbi, imus, nai, landing, ipo
/I/
Ine, Inuk, Inung, Isi, Ireng, Imet, Intung, Iso
/u/
uma, ute, wunut, wuku, tutu, culu, kudu, ruku
/U/
Usang, Utek, Uwa, Urat, Ulap
/e/
eta, ame, ine, kela, kraeng, hejol, hesot, leko
/ə/
əseng, cembəs, həmo, kamər, sakə, menəs
/ԑ/
pзpзk
/o/
lonto, oroh, poka, keto, oros, nggelong, ipo, iso
/ᴐ/
worᴐt, rokᴐt, wokᴐk, sosᴐk, sorᴐk, jongkᴐk, tokᴐk, bakᴐk



4.1.3 Diftong Bahasa Manggarai Dialek Kempo
Diftong
Contoh Kata
/ai/
nai, cai, cai, tai
/au/
hau, dau, lu, cau, nau
/ui/
tui
/oi/
noing

4.1.4 Kluster Bahasa Manggarai Dialek Kempo
Kluster
Contoh Kata
/dr/
drere
/kr/
Kroso, krara, kraeng
/sr/
srigen

4.2 Fonemik bahasa Manggarai dialek Kempo
leke (tempurung)                           lele (ketiak)
ala (ambil)                                      alu (alat untuk menumbuk)
celong (pinjam)                              celang (rambut)
calang (salah)                                 salang (jalan)
meket (pelit)                                   melet (jarang)
ame (bapa)                                      ome (kalau)
hena (kena)                                      kena (pagar)
torok (lurus)                                    corok (mengambil)
selek (berkemas)                             solek (sering)
asa (jangan sampai)                        ase (adik)
mese (besar)                                    meseng (kemarin)
rugep (menutup)                              ruget (jurang)
ruha (telur)                                      duha(setuju)
bajar (bayar)                                    bajak (rawa)
lako (jalan)                                       tako (curi)
kokak (burung)                                 kolak (makanan)
bokok (rebung)                                 bakak (ketombe)
asi (jangan)                                       api
inung (minum)                                 intung (minum kedua kalinya)
isi (menendang bola )                      iso (ludah)
ute ( sayur)                                       utek (otak)
wuku (kuku)                                     ruku (sifat)
borok (semua)                                  bobok (memar)
ceker (malu)                                     cebel (gelisah)
wokok (pendek)                               bokok (rebung)
loas (melahirkan)                              laes (hancur)
heres (iri)                                          cekes (tersedak)
darat (ekspresi kaget)                       durut (menusuk)
nare (masak)                                     nara (saudara)
toko (tidur)                                       teko (keladi)
tilu (telinga)                                      tiwu ( kolam yang dalam)
kakor (ayam berkokok)                    kokor (masak)
kete (nyala)                                       tete (ubi)
tetel (kaget)                                      katel (gatal)
4.3 Unsur Serapan
Bahasa Indonesia
Dialek Kempo
Bahasa Indonesia
Dialek Kempo
sapi
kompor
paha
garpu
senduk
jaket
kopi
topi
japi
konfor
pa’a
garfu
sendok
jeket
kupi
tupi
api
uang
jeriken
mangkuk

api
uwang
srigen
mangkok

BAB V
PENUTUP
            Melalui penelitian ini, dapat kami simpulkan bahwa dalam bahasa Manggarai dialek Kempo ditemukan 17 fonem konsonan,  10 fonem vokal, 4 diftong, 3 kluster. Fonemik yang ditemukan penulis dalam dialek ini berjumlah 33 kata dan unsure serapannya hanya satu. Dalam bahasa Manggarai dialek Kempo tidak ada fonem konsonan ny, f, v, q, y, x, dan z
















DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia. PT Rineka Cipta:Jakarta
Keraf, Gorys. 1991. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia. PT Gramedia Widiasarana: Jakarta
Moeliono, I. 1992. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Balai Pustaka: Jakarta